Hasil kajian ttg rotan, kehutanan dan lingkungan

MASALAH PEMASARAN ROTAN

lokasi asal:

 

Oleh : Muhammad Natsir Rini

Sejak abad XVIII Indonesia sudah terkenal sebagai penghasil rotan terbesar di dunia yang menguasai 85% pasar dunia. Sisanya 15% pasok rotan dunia tersebar di banyak negara, seperti : Cina, Filipina, Myanmar, Vietnam, negara-negara Afrika dan Amerika Latin. Negara-negara penghasil rotan lain tersebut rata-rata hanya menghasilkan 2% dari produksi rotan dunia.

Beberapa tahun yang lalu, produk rotan Indonesia telah merambah ke berbagai pelosok dunia, seperti Jepang, negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Sehingga produk rotan menjadi salah satu sumber pengahasil devisa negara yang cukup besar. Dari produk rotan berupa mebel/furniture rata-rata setiap tahun menghasilkan devisa sebesar US$ 310 juta 325 juta. Disamping itu kegiatan pengolahan rotan menampung banyak tebaga kerja, sejak dari pemungutan rotan di hutan, pembersihan, pengangkutan, perdagangan dan pengolahannya di pabrik mebel/furniture, maupun pembuatan kursi rotan pada industri kecil/rumah tangga, semuanya menyerap banyak tenaga kerja.

Kalah bersaing

Pada beberapa tahun belakangan ini, tepatnya sejak tahun 2000 produk rotan kita kalah bersaing di pasaran dunia oleh produk rotan asal Cina. Menurut sumber dari ASMINDO (Assosiasi Pengusaha dan Eksportir Mebel Indonesia), saat ini eksportir rotan hanya mampu menjual kursi rotan di pasar Eropa dengan harga terendah US$ 4 per kg, sementara produk serupa buatan Cina dapat dijual dengan harga US$ 1,8 per kg.

Akibatnya produk rotan kita kalah bersaing dalam harga dengan produk rotan asal Cina, sehingga industri mebel/furniture rotan kita mengalami kelesuan; beberapa industri pengolahan rotan terpaksa mengurangi produksi dan merumahkan sebagian karyawannya, seperti PT Rotan Mahawu Jaya telah mengurangi karyawannya dari sekitar 500 orang menjadi sekitar 200 orang saja, bahkan ada perusahaan sejenis yang terpaksa gulung tikar karena tidak mampu bertahan, PT Gimex misalnya. Kedua perusahaan tersebut berlokasi di Makassar.

Penyelundupan

Kelesuan industri rotan, menguatkan keyakinan beberapa pihak (antara lain ASMINDO), bahwa selama beberapa tahun terakhir telah terjadi penyelundupan rotan secara besar-besaran ke negara-negara penghasil mebel rotan terutama Cina, apalagi Cina memberi kelonggaran dengan membebaskan bea masuk impor rotan mentah ke negaranya dalam mendukung industri mebel rotan yang menyerap banyak tenaga kerja.

Jadi murahnya produk rotan asal Cina di pasar dunia, tidak semata-mata ditunjang oleh faktor efisiensi usaha dan tingkat produktivitas buruh yang tinggi dibanding Indonesia, namun justru pemanfaatan bahan baku selundupan ke negara itulah yang menjadi faktor penting kompetitifnya harga produk rotan mereka, buktinya darimana Cina dapat rotan yang begitu banyak untuk dipasarkan ke seluruh dunia, tentu ada negara penghasil rotan yang secara kontinyu mensuplai bahan bakunya.

Rotan selundupan pastilah diperoleh dengan harga yang sangat murah karena (namanya saja selundupan) pasti tidak kena pajak ekspor. Pemanfaatan bahan baku ilegal inilah yang rupanya menjadi “amunisi” produsen mebel rotan Cina untuk menyerbu pasar dunia sehingga membuat industri rotan Indonesia klimpungan.

Beban Pajak Ekspor

Hal lain yang sangat memukul para pengusaha industri mebel rotan, adalah besarnya pajak yang dikenakan untuk kegiatan ekspor rotan, biaya terminal handling cost (THC) di negara kita jauh lebih besar (500% lebih besar dari pada di Cina). Akibat pajak yang besar ini menyebabkan harga jual produk kita terpaksa harus di dongkrak sehingga kalah bersaing dengan produk Cina.

Bila kita terus kalah bersaing dengan dalam pemasaran produk rotan, maka lambat laun kita hanya akan menjadi negara pengekspor rotan mentah, hal ini sangat merugikan karena devisa yang diperoleh lebih kecil (tidak ada nilai tambah) dan kesempatan kerja serta kesempatan berusaha di bidang pengolahan rotan akan hilang sama sekali. Ini artinya suatu kemunduran bagi Indonesia dalam sektor agribisnis.

Jalan Keluar

1. Pemerintah daerah seharusnya mendorong/memotivasi para pengusaha daerah untuk melakukan kegiatan pengolahan rotan di daerah yang potensil, minimal mengolah menjadi bahan setengah jadi. Supaya dapat memperluas kesempatan kerja dan kesempatan berusaha di daerah serta meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Untuk itu perlu dilakukan kunjungan (studi banding) bagi para pengusaha daerah (bukan anggota DPRD) ke daerah-daerah yang telah berhasil melaksanakan kegiatan pengolahan rotan, seperti di Gresik dan Pandaan (Jawa Timur) atau sekitar Cirebon (Jawa Barat), serta melakukan pelatihan/magang bagi para penyuluh dan para pengrajin atau mereka yang berbakat dalam kerajinan rotan.

2. Pemerintah seharusnya mencegah dan memberantas penyelundupan rotan (mafia rotan) yang merugikan negara serta menyebabkan kelesuan industri rotan dalam negeri.

3. Pemerintah harus menurunkan pajak ekspor produk rotan yang menyebabkan biaya ekonomi tinggi sehingga produk rotan kita tidak kompetitif. µ

*Widyaiswara Balai Diklat Kehutanan

Additional information