Berita Rotan dan Produk Rotan, Mebel dan Kerajinan Indonesia

Rotan Sintetis Ancam Rotan Alam

Palu, Kompas - Maraknya rotan sintetis dalam beberapa tahun terakhir mengancam kelangsungan industri dan usaha rotan alam. Di Sulawesi Tengah, berkurangnya permintaan rotan alam dari industri di Pulau Jawa membuat banyak pabrik rotan olahan gulung tikar.

Apabila hal itu tidak diantisipasi, keberadaan rotan sintetis akan mematikan rotan alam.

Wakil Ketua Umum DPP Asosiasi Pengusaha Rotan Indonesia, Julius Hoesan, mengatakan hal ini di Palu, Minggu (6/2).

Untuk Sulawesi Tengah (Sulsel) saja, kata Julius, pabrik rotan yang hingga tahun 2000-an masih ada 42, saat ini tinggal tujuh. Itu pun satu-satu terancam gulung tikar. Umumnya pabrik rotan di Sulteng memasok industri di Pulau Jawa, seperti Cirebon dan Jawa Timur.

”Yang membuat banyak pabrik rotan tutup karena permintaan dari Jawa kian berkurang. Hal ini diperparah kebijakan pembatasan ekspor rotan,” kata Julius Hoesan.

Diakui Julius, belum ada data soal berapa besar produksi rotan sintetis di Indonesia. Akan tetapi, berdasarkan data Asosiasi Pengusaha Rotan Indonesia, kalau pada 2005 penggunaan rotan alam oleh industri di Indonesia, khususnya Pulau Jawa, masih berkisar 5.000 ton per bulan, saat ini tak sampai 1.500 ton per bulan. Berkurangnya penggunaan rotan alam ini di antaranya disebabkan maraknya produksi rotan sintetis.

Toni Lima, salah satu pengusaha rotan di Palu yang hingga kini masih bertahan, mengakui, permintaan rotan terus berkurang. ”Tiap saat rotan yang kami beli dari petani hanya menumpuk di gudang karena tidak semua terserap oleh industri di Pulau Jawa. Untuk diekspor juga sulit karena aturan membatasi,” ungkap Toni.

Untuk diketahui, awalnya rotan sintetis hanya diproduksi di luar negeri sebagai dampak berkurangnya pasokan dari Indonesia yang menjadi produsen rotan terbesar dunia. Belakangan, banyak industri rotan dalam negeri yang ikut memproduksi rotan sintetis.

Pasokan dari Indonesia turun karena ada peraturan Menteri Perdagangan yang membatasi ekspor rotan dengan alasan memenuhi kebutuhan dalam negeri. Padahal, produksi rotan yang dikelola secara lestari mencapai 600.000 ton per tahun, sementara kebutuhan dalam negeri antara 30.000 dan 40.000 ton per tahun. (ren)

Additional information